30/06/16

Drama Lebaran 2015: Tanpa Bapak, Ibu ke Bandung, dan Adik yang Kecelakaan

Ya sudah tahu lah ya arah tulisan ini ke mana. Ayah saya meninggal akhir tahun 2014. Lebaran 2015 tanpanya terasa amat sangat jauh berbeda.

Belum setahun Bapak meninggal, di hari pertama puasa Ramadan 2015, adik saya kecelakaan. Parah. Tertabrak truk pengangkut minyak (Pertamina) dan tubuhnya terpental dari motor. Melenting beberapa meter dari jalan raya. Kakinya patah, sobek, luka-luka. Tubuhnya memar. Jari tangannya harus diamputasi.

Kami kembali berduka.

Berbagi tugas, saya dan adik-adik menyusun strategi. Mengurus si adik yang kecelakaan, berdamai dengan si penabrak, bolak-balik kantor asuransi untuk klaim motor, sampai berunding tentang di mana kami akan berlebaran.

Ibu saya aslinya asal Bandung. Bahkan ibunya ibu saya masih ada, sehat walafiat. Jadi kebayang gak sih, suami sudah meninggal, dari jauh hari sudah ada rencana lebaran di Bandung eh anak kecelakaan. Kasihan.

Jadi kami anak-anaknya memutuskan berlebaran di Indramayu. Mudik semua. Saat itu kami sepakat 'menyuruh' Ibu Lebaran di Bandung.

Walau Ibu cemas meninggalkan adik yang masih tergolek di atas kasur berhari-hari (in fact, adik saya gak bisa bangun dari tidurnya selama hampir 1 bulan), tapi saya berhasil meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Adik saya akan terurus dengan baik dan telaten oleh kami kakak-kakaknya.

Jadi, hari lebaran tiba. Ibu di Bandung. Kami di Indramayu.

Berhubung saya pernah mengalami yang namanya patah tulang, perilaku pasien patah tulang yang diam saja di kasur malah membuat sakitnya berlarut-larut. Toh sudah hampir sebulan berlalu. Saya berencana mengajaknya makan siang di rumah makan pinggir pantai di Indramayu di hari lebaran ke 2. Kasihan juga adik saya di kasur melulu. Bosan pastinya.

Jadi berangkatlah kami ke rumah makan yang jaraknya 8 km dari rumah. Tidak lupa bawa kursi roda. Ibu tidak kami beritahu. Kalau dia tahu si adik yang masih sakit itu saya angkut ke luar rumah, pasti dia langsung terbang dari Bandung ke Indramayu sambil ngomel-ngomel ngamuk hahaha.

Berat juga sih mengangkut adik saya ke dalam mobil. Hahaha. Walau mukanya takut-takut gimana gitu, tapi sesampainya di restoran sih anaknya senang banget! Hihihi. Dan dia makannya paling banyak!


Si Adik yang sedang meringis duduk ke dua dari kiri :D 

Lalu kami makan, cerita-cerita, ketawa-tawa, lihat pantai, memandang laut, menunjuk-nunjuk perahu, juga tak lupa berfoto bersama. Sesampainya kembali di rumah, saya cek keadaan adik saya. Ia baik-baik saja. Keesokan harinya saya membiasakan dia menyelesaikan urusan perut ke kamar mandi. Sebelumnya semua urusan dibereskan di kasur :D

Baru deh di hari ke tiga setelah Lebaran, saya mengirim ke mamah foto kami berjalan-jalan ke pantai dan makan-makan. Juga foto si adik yang sudah bisa bangun dari kasur dan nongkrong di depan televisi. Meski yah dengan kursi rodanya. Tentu saja dia kaget. Tapi tidak marah. Karena all is well. Hahaha :D

Well seru juga Lebaran tahun 2015. Salah satu yang terbaik meski juga tersedih yang pernah saya alami.

Mungkin sesungguhnya drama-drama dalam kehidupan gak sepenuhnya tentang kesedihan ya. Ah bohong juga sih, sedih banget malahan. Waktu mengalami sendiri, saya merasa sama sekali gak sendiri. Kompak banget kami sekeluarga. Mungkin itu ya intinya, dengan siapa dan bagaimana kamu melewati semua itu.