20/12/16

Kacamata Dari Bapak yang Dikirim Via JNE Waktu Itu

Tiap kali mengetik kata 'bapak', mata saya sudah berkaca-kaca. Lucu sekali, mengingat saya adalah orang yang susah menangis apapun peristiwanya. Namun baru satu kata itu saya ketik dan terbaca di layar, dada ini sudah bergemuruh. 

Sudah tahu ya ke mana cerita saya ini akan bergulir...


Rumah Karangampel


Kacamata Baru dan Seminggu Bersama Bapak

Sekitar dua bulan sebelum bapak wafat, saya memutuskan menggunakan kacamata. Mata ini sudah akut minusnya. Belum lagi silindrisnya. Makin tak nyaman rasanya sewaktu menatap orang yang sedang berbincang pada saya. Belum lagi kalau saya dianggap belagu karena tak menyapa kerabat dan teman saat tak sengaja berada di tempat yang sama, padahal aslinya memang pemandangan yang saya lihat buram semua :D 

Bapak dan suami berkali-kali menyuruh saya menggunakan kacamata. Saya menolaknya. Benda dengan lensa itu membuat pangkal hidung saya linu-linu. Apa kamu juga begitu? Mungkin waktu itu saya belum terbiasa berkacamata sih ya jadi canggung menggunakannya. You know, seperti kalau kamu pertama kali berhijab, pasti bawaannya kagok kan? Seolah-olah ada yang salah dengan kain yang menutupi kepala itu. Nah sama dengan yang saya alami. Kacamata juga membuat saya kikuk. Sebagai bonus, memakai kacamata membuat kepala saya pusing. 

Kacamatanya saya beli di Bandung. Kadang saya gunakan, lebih sering saya abaikan dan disimpan entah di mana sekenanya saja. 

Saat bapak jatuh sakit, saya pulang kampung ke Karangampel Indramayu menengoknya. Seminggu bersama bapak di rumah, saya menyiapkan makanan dan obat-obatan untuknya tiap hari. Semacam suster dadakan. Hehehe. Kan ibu saya mesti kerja, gak bisa terus-terusan izin dari kantor karena mengurus suaminya (bapak) toh.


Bapak, fotonya ada di dalam dompet saya :,)

Sambil makan bersama, saya menyuapi diri sendiri dan menyuapinya makan, dia mengomentari kacamata yang kebetulan saya pakai. Bagus katanya. "tambah ayu," begitu katanya terbata-bata dengan nasi yang kesembur-sembur dari mulutnya. Pasca stroke, bapak agak hilang ingatan. Tak bisa menulis. Juga agak sulit bicara. Tapi kalau berjalan masih sanggup. 

Seminggu bersama Bapak, rasanya gak mau kembali ke Bandung. Tapi pekerjaan sudah memanggil-manggil. Siang yang terang di Indramayu, Bapak mengantar saya hingga pintu rumah bagian depan. Saya pamit, cium tangannya, peluk badannya, dan pulang ke Kota Kembang. 

Kacamata saya tertinggal di rumah, 222 km dari Bandung.


Kacamatanya Ketinggalan, Dikirim ke Bandung

Baru keesokan harinya saya ingat kacamata itu. Hahaha. Ah yasudahlah saya masa bodoh banget. Pikir saya biar kacamata itu jadi stok saya kalau pulang ke rumah lagi. Toh bisa beli frame dan lensa baru di Bandung. 

Entah kenapa bapak keukeuh menyuruh adik saya mengantar kacamata itu kembali ke Bandung. Adik saya kan anak sekolahan dan ABG yang sibuk dengan dunianya sendiri. Urusan mengirim kacamata tentu saja jadi agenda yang agak merepotkan. Hihihi.




Udah gak usah dikirim lah, Pak. Ntar bisa beli lagi. Kata saya, via sms. 
Enggak. Enggak. Gitu katanya. Jawab Bapak, via sms via adik saya yang membacakan dan mengetikkan. 

Ah yaudah, dibungkuslah kacamata itu, dikirim ke Bandung via JNE di dekat rumah. Karangampel kan kota kecil di Indramayu. Gak ada kantor pos di sana, harus ke kota Indramayu kalau mau kirim-kirim via kantor pos. 

Kalau kami mau kirim barang, pasti ke JNE terdekat, sekitar 3 km jaraknya dari rumah, di desa sebelah, Mundu nama desanya, dekat kompleks Pertamina. "Dikirim besok sampe," pesan Bapak pada adik saya yang berangkat ke JNE. Ngomong-ngomong, JNE ini kemarin November bikin program HARBOKIR, Hari Bebas Ongkos Kirim, pada tanggal 26 dan 27 November dalam rangka ulang tahunnya yang ke 26. Harbokir ini berlaku untuk pengiriman di 55 kota di Indonesia dan berat maksimal 2 kg. Wuiw so sweet :) yang ulang tahun siapa, yang ngasih hadiah siapa :D selamat ulang tahun, JNE!

Oh well. Kembali ke JNE di Karangampel ya. 

Masalahnya di Karangampel - Bandung belum ada paket kilat. Belum ada JNE YES, apalagi JNE Express. Adanya JNE REG a.k.a reguler, sekitar empat hari kemudian kurir JNE mengetok pintu rumah dan memberi saya paket berukuran mungil. Kacamatanya sampai ke tangan saya lagi. Terus ibu nelepon saya, konfirmasi kacamata sudah sampai atau belum. Siapa yang nyuruh konfirmasi, tentu saja Bapak. Hehehe :D


Kacamata Melankolis dan Cerita Baik Didalamnya

Saya pikir momen ketinggalan kacamata ini cuma peristiwa kecil, minor banget. Gak perlu saya ingat-ingat. Remeh. Namun kejadiannya berbeda saat beberapa waktu kemudian sebelum adzan subuh, saya yang masih tertidur ditelpon oleh Ibu. "Lu, Bapak meninggal. Cepet pulang sekarang." Tangis saya langsung pecah. Jantung saya rasanya langsung rontok saat itu juga. 

Sampai sekarang, melihat kacamata itu rasanya berbeda sekali. Ada perasaan dramatis sekaligus melankolis. Pada akhirnya saya membeli kacamata yang baru. Kacamata melankolis itu saya simpan, takut hilang mengingat saya pelupa berat. Cerita baik di dalamnya mau saya simpan erat-erat. Terima kasih sudah mengantarkan kacamata saya kembali dengan kondisi baik, JNE.


The Kacamata :)

Juga matur kesuwun, Bapak. Saya mengirim doa tiap hari untukmu, tiap sehabis sholat, tiap mau tidur, dan tiap-tiap waktu di mana bayanganmu datang tiba-tiba. Dua tahun berlalu, kebahagiaan bersama Bapak masih saya ingat terus. Terutama kebahagiaan berbungkus kacamata itu, masih merekam ingatan saya tentang nasi dan telor dadar yang saya suapkan ke mulutnya dan semburan-semburan nasi yang keluar dari mulutnya saat ia berusaha berkata tentang saya dan kacamata itu : tambah ayu.